Jumat, 25 November 2016

03. Makalah tentang Ekonomi Kesehatan dan Pembangunan, Pembiayaan Pembangunan Kesehatan di Indonesia dan Sistem Kesehatan Nasional Tentang Pembiayaan Kesehatan

                                                                        MAKALAH


                                    Dosen  :  Adisti A. Rumayar, SKM, M.Kes., MPH



                                                                        Topik

                                     1. Ekonomi Kesehatan dan Pembangunan
                                     2. Pembiayaan Pembangunan Kesehatan di Indonesia
                                     3. Sistem Kesehatan Nasional Tentang Pembiayaan Kesehatan

              



Nama               : Junianti Ahmad
NIM                : 14111101017
Kelas               : AKK
Semester          : 5
Tugas               : Ekonomi Kesehatan





FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
       UNIVERSITAS SAM RATULANGI
      MANADO
      2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
            Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang lain yang membacanya.
Terlepas dari semua itu, karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami,  kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.







































                                                            DAFTAR ISI



Kata Pengantar........................................................................................................................1
Daftar Isi.................................................................................................................................2
Bab I : Pendahuluan...............................................................................................................
            1.1 Latar Belakang......................................................................................................3
            1.2 Tujuan...................................................................................................................3
Bab II : Pembahasan...............................................................................................................
            2.1 Kaitan Dasar Ekonomi Kesehatan Terhadap Pembangunan................................3
            2.2 Kaitan Ekonomi Kesehatan Terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia dan             Pembangunan Ekonomi..........................................................................................................4
            2.3 Kaitan Pembangunan Ekonomi Terhadap Status Kesehatan................................5
            2.4 Kaitan Status Kesehatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi............................... .6
            2.5 Konsep Pembangunan Kesehatan Di Indonesia...................................................6
            2.6 Pengertian Paradigma Sehat.................................................................................9
            2.7 Perubahan Paradigma...........................................................................................9
            2.8 Misi Pembangunan Kesehatan.............................................................................9
            2.9 Strategi Pembangunan Kesehatan.......................................................................10
            3.1 Pengertian Sistem Kesehatan Nasional (SKN)...................................................10
            3.2 Tujuan SKN........................................................................................................10
            3.3 Subsistem Pembiayaan kesehatan.......................................................................10
Bab III : Penutup....................................................................................................................
Daftar Pustaka.......................................................................................................................12





























                            Kaitan Dasar Ekonomi Kesehatan Terhadap Pembangunan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan umumnya sudah menjadi tujuan utama dan merupakan hasil suatu pembangunan, namun peran investasi kesehatan dalam pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan masih kurang mendapat perhatian. Hubungan antara kesehatan, ekonomi, dan pembangunan dapat dilihat pada tingkat rumah tangga dan masyarakat. Sakit secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi sumber daya rumah tangga, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan, hilangnya waktu sekolah dan bekerja, serta kerugian akibat hilangnya aset berharga untuk pengobatan dan perawatan. Pembangunan itu sangat erat sekali hubungannya dengan kesehatan, yaitu seberapa besar anggaran yang ditujukan untuk kesehatan itu bisa memadai serta bagaimana anggaran tersebut bisa dialokasikan dengan tepat untuk pembangunan pelayanan kesehatan.
Terdapat korelasi yang kuat antara tingkat kesehatan yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Secara statistik diperkirakan bahwa setiap peningkatan 10% dari angka harapan hidup (AHH) waktu lahir akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi minimal 0,3–0,4% per tahun, jika faktor-faktor pertumbuhan lainnya tetap. Dengan demikian, perbedaan tingkat pertumbuhan tahunan antara negara-negara maju yang mempunyai AHH tinggi (77 tahun) dengan negara-negara sedang berkembang dengan AHH rendah (49 tahun) adalah sekitar 1,6%, dan pengaruh ini akan terakumulasi terus menerus (data WHO-SEAR, 2002).
Berdasarkan paparan di atas, kami tertarik untuk membahas secara lebih dalam bagaimanakah kaitan antara ekonomi kesehatan dengan pembangunan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang hubungan ekonomi kesehatan dengan pembangunan, serta hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut.


                                                                        BAB II
                                                            PEMBAHASAN
2.1 Kaitan Dasar Ekonomi Kesehatan Terhadap Pembangunan
Sistem ekonomi kesehatan dapat diidentifikasi dalam berbagai komponen yaitu: pemerintah, masyarakat, pihak ketiga yang menjadi sumber pembiayaan seperti PT Askes Indonesia, JPKM; Penyedia pelayanan, termasuk industri obat dan tempat-tempat pendidikan tenaga kesehatan, dan sebagainya.
Pembangunan adalah sebagai suatu proses, akan terkait dengan mekanisme sistem atau kinerja suatu sistem. Menurut Eastonn, proses sistemik paling tidak terdiri atas tiga unsur: pertama adanya input, yaitu bahan masukan konversi; kedua, adanya proses konversi, yaitu wahana untuk mengolah bahan masukan; ketiga, adanya output, yaitu sebagai hasil dari proses konversi yang dilaksanakan. Proses sistenik dari suatu sistem akan saling terkait dengan subsistem dan sistem-sistem lainnya termasuk lingkungan internasional.
Proses pembangunan sebagai proses sistemik, pada akhirnya akan menghasilkan keluaran (output) pembangunan, kualitas dari output pembangunan tergantung pada bahan masukan (input), kualitas dari proses pembangunan yang dilaksanakan, serta seberapa besar pengaruh lingkungan dan faktor-faktor alam lainnya. Bahan masukan pembangunan, salah satunya adalah saumber daya manusia, yang dalam bentuk konkritnya adalah manusia. Manusia dalam proses pembangunan mengandung beberapa pengertian, yaitu manusia sebagai pelaksana pembangunan, manusia sebagai perencana pembangunan, dan manusia sebagai sasaran dari proses pembangunan (as object).
Menurut H.L Blum (1974) derajat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan medis dan keturunan. Yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan adalah keadaan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan perilaku masyarakat yang merugikan, baik masyarakat di pedesaan maupun perkotaan yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat dibidang kesehatan, ekonomi maupun teknologi (Departemen Kesehatan RI, 2004).
Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat baik dalam bidang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif agar setiap warga masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosial serta harapan berumur panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut Winslow menetapkan suatu syarat yang sangat penting, yaitu harus ada pengertian, bantuan dan partisipasi masyarakat secara teratur dan terus menerus (Effendy, 1998).
Sedangkan tujuan dari pembangunan nasional adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika dalam pembangunan nasional mencakup seluruh aspek nasional seperti kesehatan, pertanian, keuangan, dan lain-lain, maka pembangunan harus berawal dari pembangunan aspek nasional satu per satu. Pada hal ini yang kita khususkan adalah aspek kesehatan. Bidang kesehatan merupakan salah satu aspek nasional yang penting dan harus dibangun secara baik. Mejadi baiknya bidang kesehatan memiliki beberapa faktor seperti ekonomi kesehatan, pelayanan, pelaku kesehatan, pembangunan kesehatan, dan sebagainya.
2.2 Kaitan Ekonomi Kesehatan Terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia dan Pembangunan Ekonomi
Pada tingkat yang kecil (mikro) yaitu pada tingkat individual dan keluarga, kesehatan adalah dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di sekolah. Tenaga kerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih energik dan kuat, lebih produktif, dan mendapatkan penghasilan yang tinggi. Keadaan ini terutama terjadi di negara-negara sedang berkembang, di mana proporsi terbesar dari angkatan kerja masih bekerja secara manual. Di Indonesia, tenaga kerja laki-laki yang menderita anemia menyebabkan 20% kurang produktif jika dibandingkan dengan tenaga kerja laki-laki yang tidak menderita anemia. Selanjutnya, anak yang sehat mempunyai kemampuan belajar lebih baik dan akan tumbuh menjadi dewasa yang lebih terdidik. Dalam keluarga yang sehat, pendidikan anak cenderung untuk tidak terputus jika dibandingkan dengan keluarga yang tidak sehat.
Pada tingkat yang besar (makro), penduduk dengan tingkat kesehatan yang baik merupakan masukan (input) penting untuk menurunkan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan ekonomi jangka panjang. Beberapa pengalaman sejarah besar membuktikan berhasilnya tinggal landas ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang cepat didukung oleh terobosan penting di bidang kesehatan masyarakat, pemberantasan penyakit dan peningkatan gizi. Hal ini antara lain terjadi di Inggris selama revolusi industri, Jepang dan Amerika Selatan pada awal abad ke-20, dan pembangunan di Eropa Selatan dan Asia Timur pada permulaan tahun 1950-an dan tahun 1960-an.
Informasi yang paling mengagumkan adalah penelusuran sejarah yang dilakukan oleh Prof. Robert Fogel, yang menyatakan bahwa peningkatan ketersediaan jumlah kalori untuk bekerja, selama 200 tahun yang lalu mempunyai kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan per kapita seperti terjadi di Prancis dan Inggris. Melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja dan pemberian kalori yang cukup, Fogel memperkirakan bahwa perbaikan gizi memberikan kontribusi sebanyak 30% terhadap pertumbuhan pendapatan per kapita di Inggris.
Bukti-bukti makroekonomi menjelaskan bahwa negara-negara dengan kondisi kesehatan dan pendidikan yang rendah, mengahadapi tantangan yang lebih berat untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan jika dibandingkan dengan negara yang lebih baik keadaan kesehatan dan pendidikannya.
Peningkatan kesejahteraan ekonomi sebagai akibat dari bertambah panjangnya usia sangatlah penting. Dalam membandingkan tingkat kesejahteraan antar kelompok masyarakat, sangatlah penting untuk melihat angka harapan hidup, seperti halnya dengan tingkat pendapatan tahunan. Di negara-negara yang tingkat kesehatannya lebih baik, setiap individu memiliki rata-rata hidup lebih lama, dengan demikian secara ekonomis mempunyai peluang untuk untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi. Keluarga yang usia harapan hidupnya lebih panjang, cenderung untuk menginvestasikan pendapatannya di bidang pendidikan dan menabung. Dengan demikian, tabungan nasional dan investasi akan meningkat, dan pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Peranan kesehatan diantara berbagai faktor pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan dalam skema di bawah ini. Dalam skema tersebut dapat dilihat, pembangunan ekonomi di satu pihak, merupakan fungsi dari kebijakan dan institusi (kebijakan ekonomi, pemerintahan yang baik, dan penyediaan pelayanan publik), dan faktor masukan (sumber daya manusia, teknologi, dan modal perusahaan) di lain pihak. Kesehatan mempunyai peranan ekonomi yang sangat kuat terhadap sumber daya manusia dan modal perusahaan melalui berbagai mekanisme seperti digambarkan.
Kesehatan yang buruk akan memberikan pengaruh buruk terhadap pertumbuhan ekonomi, hal ini antara lain terjadi di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Beban berat yang diakibatkan oleh penyakit dan pengaruh gandanya terhadap produktivitas, kependudukan, dan pendidikan mempunyai peranan dalam kinerja ekonomi yang buruk dan kronis di negara-negara Afrika. Studi terbaru yang dilakukan oleh Bloom dan Sachs, menemukan bahwa lebih dari setengahnya dari keterbelakangan pertumbuhan di negara-negara Afrika jika dibandingkan dengan dengan negara-negara di Asia Timur, secara statistik dapat diterangkan oleh beban berat akibat penyakit, kependudukan, dan geografis jika dibandingkan dengan variabel-variabel tradisional dari ekonomi makro dan politik pemerintahan. Sebagai contoh, tingginya angka prevalensi penyakit malaria menunjukkan hubungan yang erat dengan penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 1% atau lebih setiap tahunnya.
2.3 Kaitan Pembangunan Ekonomi Terhadap Status Kesehatan
Irawan dan Romdiati (2000) mengemukakan bahwa krisis ekonomi yang dilihat dari menurunnya laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk miskin, melalui beberapa mekanisme yang kesemuanya menyebabkan penurunan drastis pada pendapatan dan daya beli dari mayoritas penduduk, khususnya golongan bawah. Menurunnya pendapatan secara negatif berdampak pada kualitas dan pola konsumsi rumah tangga. Dengan tingkat pendapatan yang sangat terbatas, banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah pola makanan pokoknya ke barang paling kurang dengan jumlah yang berkurang. Sementara di beberapa kasus, seperti yang ditemukan oleh Irawan (1998), penurunan tajam pada pendapatan telah menyebabkan banyak rumah tangga menjadi sangat nestapa karena mereka mengalami kesulitan untuk membeli makanan, penurunan ini umumnya mengakibatkan berubahnya pola pengeluaran konsumsi dengan proporsi lebih besar untuk kebutuhan makanan dibandingkan untuk kebutuhan bukan makanan, seperti untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan. Pada studi lainnya, Irawan (1999) juga menemukan bahwa mayoritas penduduk pedesaan cenderung merubah pola konsumsi makanan, baik kualitas maupun kuantitas, seperti dari nasi ke jagung atau umbi-umbian, dan dari sebanyak 3 kali ke 1 atau 2 kali makan sehari.
Adanya keterkaitan status gizi dan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan dalam Soekirman, 2000. Dalam salah satu pidatonya dikatakan bahwa, “Gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak, meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, melindungi kesehatannya dan meletakkan pondasi untuk masa depan produktivitas anak”. Pernyataan ini memperkuat hasil riset para pakar gizi dan kesehatan mengenai adanya kaitan antara pangan, gizi, kesehatan dan pembangunan ekonomi. Terjadinya perbaikan ekonomi maka akan mengurangi kemiskinan dan selanjutnya akan meningkatkan status gizi, kesehatan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan produktivitas.
2.4 Kaitan Status Kesehatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Status kesehatan masyarakat sangat menentukan produktifitas seseorang. Keadaan sakit dapat membuat seseorang tidak mampu untuk bekerja, bahkan untuk melakukan pekerjaan yang ringan sekalipun. Ini dikarenakan kondisi kesehatan ynag tidak baik. Pada kondisi yang sehat jasmani, seseorang dapat melakukan pekerjaan yang optimal dan dapat melakukan pekerjaan yang berat sekalipun (relatif pada setiap orang), sebab orang yang sehat memiliki energi untuk bekerja.
Untuk apa seseorang bekerja? Orang yang sehat akan bekerja (memiliki sebuah pekerjaan) untuk memenuhi kebutuhannya, karena dengan bekerja ia akan mendapatkan upah/gaji sebagai haknya karena telah melakukan kewajibannya. Jika upahnya mencukupi perekonomian keluarga, dapat disimpulkan perekonomian berkembang dari baiknya perekonomian individu.
Perekonomian individu menjadi lebih baik maka berdampak pada perekonomian tahap yang buruk menjadi baik (masyarakat perekonomian rendah), akan berdampak ke atasnya (masyarakat perekonomian menengah) menjadi baik pula, dan masyarakat perekonomian atas akan menjadi lebih baik juga. Sebaliknya, proses ini dapat menjadi baik jika sesuai urutan deskriptif seperti di atas, jika sebaliknya kita tidak dapat menebak. Misalnya perekonomian masyarakat atas yang baik tidak dapat menjamin baiknya perekonomian masyarakat menengah.
Jika perekonomian individu menjadi baik, pertumbuhan ekonomi akan meningkat pula. Pertumbuhan ekonomi suatu negara dilihat dari upah rata-rata terendah dari masyarakat. Jika perekonomian individu menjadi baik, upah rata-rata individu akan meningkat pula.

2.5 Konsep Pembangunan Kesehatan Di Indonesia
1. Tujuan Pembangunan Kesehatan Di Indonesia
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesahatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia.

2. Paradigma Sehat
Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembanguan kesehatan yang memandang masalah kesehatan saling terkait dan mempengaruhi banyak faktor yang bersifat lintas sektoral dengan upaya yang lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan, serta perlindungan kesehatan, tidak hanya pada upaya penyembuhan penyakit atau pemulihan kesehatan.

3. Misi Dan Visi Indonesia Sehat 2015 
a. VISI  :  Indonesia Sehat 2015
b. MISI :
1) Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3) Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau
4)   Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.

4. Ciri–Ciri Masyarakat Yang Sehat
    a. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat
    b. Mmengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
    c. Peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup
    d. Peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat
    e. Penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit

5. Indikator Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Masyarakat
Menurut WHO beberapa indikator dari masyarakat sehat adalah :
Keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat, meliputi:
    1) Indikator komprehensif- angka kematian kasar menurun
        a) rasio angka mortalitas proporsial rendah
        b) umur harapan hidup meningkat
    2) indikator spesifik- angka kematian ibu dan anak menurun
        a) angka kematian karena penyakit menular menurun
        b. Indikator pelayanan kesehatan
1) rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang
2) distribusi tenaga kesehatan merata
3) informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit, fasilitas kesehatan lain, dsb.
4) Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehtan diantaranya rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, dsb.

6. Faktor – Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Di Indonesia
    a. Faktor lingkungan
       1) kurangnya peran serta masyarakat dalam mengatasi kesehatan (masalah-masalah kesehatan).
       2) Kurangnya sebagian besar rasa tanggung jawab masyarakat dalam bidang kesehatan.
    b. Factor perilaku dan Gaya Hidup masyarakat Indonesia
        1) masih banyak insiden atau kebiasaan masyarakat yang selalu merugikan dan membahayakan kesehatan mereka.
        2) Adat istiadat yang kurang atau bahkan tidak menunjang kesehatan.
    c. Factor social ekonomi
        1)   tingkat pendidikan masyarakat di Indonesia sebagian besar masih rendah. 
        2)   Kurangnya kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan. Budaya sadar sehat belum merata ke sebagian penduduk Indonesia. 
        3)   Tingkat social ekonomi dalam hal ini penghasilan juga masih rendah dan memprihatinkan.
    d.   Factor pelayanan kesehatan
        1)   Cakupan pelayanan kesehatan belum menyeluruh dimana ada sebagian propinsi di indonsia yang belum mendapat pelayanan kesehatan maksimal dan belum merata.
         2)   Upaya pelayanan kesehatan sebagian masih beriorientasi pada upaya kuratif.
         3)   Sarana dan prasarana belum dapat menunjang pelayanan kesehatan.

7. Strategi Dan Program Pembangunan Kesehatan Di Indonesia  
Strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan Indonesia Sehat tahun 2010 adalah sebagai berikut.
    a. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan
Semua kebijakan pembengunan nasional yang sedang akan diselenggarakan harus memiliki wawasan kesehatan. Artinya program pembangunan nasional harus memberikan konstribusi yang positif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terdapat dua hal, di antaranya:  
       1) Pembentukan lingkungan sehat;
       2) Pembentukan perilaku sehat;
Untuk terselenggarakannya pembangunan berwawasan kesehatan perlu dilaksanakan kegiatan sosialisasi, orientasi, kampanye, dan pelatihan. Sehingga semua pihak terkait memahami dan mampu melaksanakan pembangunan berwawwasan Internasional.
    b. Determinan yang berpengarah dalan perencanaan tenaga kesehatan diantaranya adalah sebagai berikut.
       1) Perkembangan penduduk.
       2) Pertumbuhan ekonomi.
       3) Kebjaksanaan di bidang kesehatan antara lain: upaya peningkatan kelas rumah sakit dan deregulasi bidang rumah sakit upaya peninhkatan mutu unit-unit pelayanan kesehatan, swadaya unit pelayanan kesehatan, serta pengembangan sector swasta (nasional dan asing).
Dalam penentuan atau perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan didasarkan atas pertimbangan kombinasi dari tiga prinsip, yaitu: memerhatikan rasio tenaga dengan penduduk; permintaan dan kecenderungan epidemiologi di lapangan; serta determinan yang ada. Namun, untuk negara Indonesia yang sangat beragam situasi dan kondisi daerahnya maka keadaan geografi dan kepadatan penduduk merupakan factor determinan yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tentang kesehatan disamping determinan yang disebutkan di atas. Ciri daerah yang sangat bervariasi merupakan satu permasalahan tersendiri dalam melakukan perencanaan tenaga kesehatan sehingga kemungkinan tidak dapat diperoleh satu formula yang dapat digunakan untuk semua wilayah Indonesia.

8. Program Kesehatan Unggulan Di Indonesia
Ditetapkan 10 program kesehatn, sebagai berikut :
    a. Program kebijakan kesehatan, pembiayaan kesehatan dan hokum kesehatan
    b. Program perbaikan gizi
    c. Program pencegahan penyakit menular
    d. Program peningkatan prilaku hidup sehat dan kesehatan mental
    e. Program lingkungan pemukiman, air dan udara sehat
    f. Program kesehatan keluarga, kesehatan reproduksi dan keluarga berencana
    g. Program keselamatan dan kesehatan kerja
    h. Program anti tembakau, alcohol, dan madat
    i. Program pengawasan obat, bahan berbahaya, makanan
    j. Program pencegahan kecelakaan lalu lintas

9. Agenda Millenium Deffelopment Goals (Mdgs)
Adapun kelima agenda tersebut adalah:
    a. Agenda ke – 1 memberantas kemiskinan dan kelaparan.
    b. Agenda ke – 4 menurunkan angka kematian anak.
    c. Agenda ke – 5 meningkatkan kesehatan ibu
    d. Agenda ke – 6 memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lainnya.
    e. Agenda ke – 7 melestarikan lingkungan hidup

10. Indikator Keberhasilan Pembangunan Kesehatan Kia
      1. Indikator Input : Dapat dilihat dari kebijaksanaan manajemen ( Man, Money, Material, Method, dsb ).Struktur organisasi serta kondisi keadaan masyarakat pada saat ini :
          a. Komitmen politik  mengenai kesehatan bagi semua.
           b. Alokasi sumber daya, pembiayaan Kesehatan 5 % dari total pembayaan nasional dan pembiayaan pembangunan daerah.
           c. Penyebaran Pendapatan
           d. Angka melek huruf orang dewasa.
           e. Ketersediaan sarana kesehatan, Penyebaran dan penggunaannya.
           f. Tingkat pertumbuhan penduduk
           g. Penduduk yang ikut JPKM
           h. Kerangka Organisasi dan proses manajerial.
      2. Indikator Proses : Adanya kemajuan dalam proses manajemen baik dalam perencanaan, organisasi, staffing, koordinasi, pelaporan dan pembiayaan, misalnya :
a. Keterlibatan masyarakat dalam mencapai kesehatan bagi semua.
b. Tingkat desentralisasi pengambilan keputusan, pengembangan dan penetapan suatu proses manajerial bagi pembangunan kesehatan nasional atau pembangunan daerah.
c. Wanita hamil yang memeriksakan kehamilan
d. Penduduk yang tidak merokok dan tidak minum minuman keras.
      3. Indikator Output : Misalnya :
Cakupan :
          a. Cakupan pelayanan kesehatan dasar.
          b. Cakupan pelayanan rujukan.
Status kesehatan ;
          a. Status gizi dan perkembangan Psikososial anak
          b. Angka kematian bayi, angka kematian anak, umur harapan hidup waktu lahir dan angka kematian ibu.

2.6 Pengertian Paradigma Sehat
1. Paradigma Sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembangunan kesehatan yang bersifat holistik
2. Melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat lintas sektor
3. Upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan,
4. Bukan hanya panyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan

2.7 Perubahan Paradigma
1. Paradigma sakit: upaya membuat orang sakit  menjadi sehat
2. Paradigma sehat: upaya membuat orang sehat tetap sehat
3. Paradigma sehat mengutamakan : upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif

2.8 Misi Pembangunan Kesehatan
1. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan:
2. Berbagai sektor pembangunan harus memasukkan pertimbangan kesehatan dalam semua kebijakan pembangunan-nya: Program pembangunan yang tidak berkontribusi positif terhadap kesehatan, apalagi yang berdampak negatif terhadap kesehatan, seyogyanya tidak diselenggarakan.
3. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
4. Kesehatan adalah tanggung jawab bersama setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta: Apapun peran yang dimainkan oleh pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang dapat dicapai
5. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.
6. Salah satu tanggung jawab sektor kesehatan adalah menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau oleh masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilakukan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat .
7. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.
8. Tugas utama sektor kesehatan adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan segenap warganya: Oleh karena itu upaya kesehatan yang harus diutamakan adalah yang bersifat promotif-preventif yang didukung oleh upaya kuratif-rehabilitatif. Selain itu upaya penyehatan lingkungan juga harus diprioritaskan.

2.9 Strategi Pembangunan Kesehatan
1. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan
Semua kebijakan pembangunan nasional yang sedang dan atau akan diselenggarakan harus berwawasan kesehatan, setidak-tidaknya harus memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan lingkungan dan perilaku sehat. Sedangkan pembangunan kesehatan harus dapat mendorong pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, terutama melalui upaya promotif-preventif yang didukung oleh upaya kuratif-rehabilitatif.
2. Profesionalisme
Pelayanan kesehatan yang bermutu perlu didukung oleh penerapan pelbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penerapan nilai-nilai moral dan etika. Untuk itu akan ditetapkan standar kompetensi bagi tenaga kesehatan, pelatihan berdasar kompetensi, akreditasi dan legislasi serta kegiatan peningkatan kuatitas lainnya
3. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)
Untuk memantapkan kemandirian masyarakat dalam hidup sehat perlu digalang peranserta masyarakat yang seluas-luasnya termasuk dalam pembiayaan. JPKM pada dasarnya merupakan penataan sistem pembiayaan kesehatan yang mempunyai peranan yang besar pula untuk mempercepat pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.
4. Desentralisasi
Untuk keberhasilan pembangunan kese­hatan, penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan harus berangkat dari masalah dan potensi spesifik masing-masing daerah. Untuk itu wewenang yang lebih besar didele­gasikan kepada daerah untuk mengatur sistem pemerintahan dan. rumah tangga sendiri, termasuk di bidang kesehatan.

3.1 Pengertian Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
Adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung, guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagian perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945 Pada hakikatnya. SKN adalah juga merupakan wujud dan sekaligus metode penyelenggaraan pembangunan kesehatan, yang memadukan berbagai upaya Bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan.
3.2 Tujuan SKN
Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil guna dan berdaya guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
3.3 Subsistem Pembiayaan kesehatan
a. Pengertian
   Adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya penggalian, pengalokasian, dan pembelanjaan sumberdaya keuangan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
b. Tujuan
    Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
c. Unsur – unsur Utama
    Subsistem pembiayaan kesehatan terdiri dari tiga unsur utama, yakni pengendalian dana, alokasi dana, dan pembelanjaan.
   1. Penggalian dana adalah kegiatan menghimpun dana yang diperlukan untuk penyelenggaraan upaya kesehatan dan atau pemeliharaan kesehatan
   2. Alokasi dana adalah penetapan peruntukan pemakaian dana yang telah berhasil dihimpun, baik yang bersumber dari pemerintah, masyarakat, maupun swasta
   3. Pembelanjaan adalah pemakaian dana yang telah dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja sesuai dengan peruntukannya dan atau dilakukan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan wajib atau sukarela
d. Prinsip
   1. Jumlah dana untuk kesehatan harus cukup tersedia dan dikelola secara berdaya guna, adil, dan berkelanjutan yang didukung oleh transparansi dan akuntabilitas
   2. Dana pemerintah diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin
   3. Dana masyarakat diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan perorangan yang terorganisir, adil, berhasil guna dan berdaya guna melalui jaminan pemeliharaan kesehatan baik berdasarkan prinsip solidaritas sosial yang wajib maupun sukarela, yang dilaksanakan secara bertahap
   4. Pemberdayaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan diupayakan melalui penghimpunan secara aktif dana sosial untuk kesehatan (misal : dana sehat) atau memanfaatkan dana masyarakat yang telah terhimpun (misal : dana sosial keagamaan) untuk kepentingan kesehatan.
e. Bentuk Pokok
    1. Penggalian dana
       a) Pengendalian dana untuk UKM
           1. Sumber dana untuk UKM terutama berasal dari pemerintah baik pusat maupun daerah, melalui pajak umum, pajak khusus, bantuan dan pinjaman, serta berbagai sumber lainnya
           2. Sumber dana lain untuk upaya kesehatan masyarakat adalah swasta serta masyarakat.
           3. Sumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip public private partnership yang didukung dengan pemberian insentif, misalnya keringanan pajak untuk setiap dana yang disumbangkan
           4. Sumber dana dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri guna membiayai upaya kesmas, misalnya dalam bentuk dana sehat, atau dilakukan secara pasif, yakni menambahkan aspek kesehatan dalam rencana pengeluaran dari dana yang sudah terkumpul di masyarakat, misalnya dana sosial keagamaan
        b) Penggalian dana untuk UKP
       Sumber dana untuk UKP berasal dari masing-masing individu dalam satu kesatuan keluarga. Bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin, sumber dananya berasal dari pemerintah melalui mekanisme jaminan pemeliharaan kesehatan wajib.
   2. Pengalokasian Dana
        a) Alokasi dana dari pemerintah
Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk UKM dan UKP dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja, baik pusat maupun daerah, sekurangkurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya.
        b) Alokasi dana dari masyarakat
           1. Alokasi dana yang berasal dari masyarakat untuk UKM dilaksanakan berdasarkan asas gotong royong sesuai dengan kemampuan.
           2. Sedangkan untuk UKP dilakukan melalui kepesertaan dalam program jaminan pemeliharaan kesehatan wajib dan atau sukarela.
       c) Pembelanjaan :
          1. UKM : Pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan public private partnership.
          2. UKM dan UKP : Pembiayaan dari Dana Sehat dan Dana Sosial.
          3. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Wajib : Pembelanjaan untuk pemeliharaan kesmas rentan dan gakin. Untuk keluarga mampu melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Wajib dan atau sukarela.
          4. Dimasa mendatang :biaya kesehatan dari pemerintah secara bertahap digunakan seluruhnya untuk pembiayaan UKM dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan masyarakat rentan dan gakin.



BAB III
          PENUTUP


                                                            DAFTAR PUSTAKA

http://vierazul.blogspot.co.id/2010/08/kaitan-dasar-ekonomi-kesehatan-terhadap.html
Hudha, AM. 2010. Mewujudkan MDGs Pendidikan untuk Kemajuan Pendidikan Masa Datang.: http://ejournal.umm.ac.id. (diakses pada 02 Juni 2013)
Iqbal Mubarak, Wahid and Chayatin, Nurul. 2008. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori dan Apikasi. Gresik : Salema Medika
Nurullah, Ahmad. 2012. Tantangan 2012 menuju MDGs. [On line].  http: ///J: Pendidikan MDGs.htm. (diakses pada 02 juni 2013)
Setiawan, Benni. 2008. Agenda Pendidikan Nasional. Jogjakarya: Ar-ruz Media Group.


http://psikstikma.blogspot.co.id/2014/01/pembangunan-kesehatan-di-indonesia.html
http://mastihartina.blogspot.co.id/2014/12/makalah-sistem-kesehatan-nasional.html











Tidak ada komentar:

Posting Komentar